Skip to main content
putus mitra

Pengalaman Driver Yang Putus Mitra Hanya Dalam Kurun Waktu 3 Jam

Untuk mengatasi tindakan kecurangan mitra driver ojek online, pihak aplikator memberlakukan pemutusan mitra guna kebaikan bersama. Selain agar menghindari kerugian yang akan dialami pihak aplikator, juga untuk memberi persaingan yang sehat sesama mitra.

Untuk membuat ekosistem bisnis yang sehat, salah satunya adalah dengan menghilangkan bentuk kecurangan yang dilakukan mitra, apalagi berhubungan dengan citra aplikator di mata pelanggan. Jika mitra membuat pelanggan tidak puas dengan kecurangannya, maka pihak aplikator berhak memberlakukan pemutusan mitra kerja.

Sebagai mitra kerja, Driver memang seharusnya mentaati kebijakan peraturan yang diberlakukan oleh pihak aplikator. Jika driver melanggar, maka akun beserta kontrak mitra mereka akan menjadi jaminan.

Di Gojek sendiri, putus mitra adalah sanksi terberat yang diberikan pihak Gojek Indonesia kepada mitranya yang telah melanggar kebijakan. Penyebab putus mitra sangat beragam, Anda bisa membacanya kebijakannya di artikel “Beberapa pelanggaran driver yang berujung suspen hingga putus mitra”.

Namun, pihak aplikator sendiri juga tidak akan melakukan pemutusan mitra tanpa sebab. Ada beberapa prosedur dalam menilai kesalahan dan bentuk kecurangan yang dilakukan mitra sebelum memberikan sanksi putus mitra.

Mitra sendiri juga bisa mengajukan banding saat setelah mendapatkan notifikasi pemutusan mitra. Jika memang kesalahannya bisa dimaafkan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, bisa saja pihak Gojek memberikan kesempatan kedua kepada mitra tersebut.

Pengalaman Driver Yang Putus Mitra Hanya Dalam Kurun Waktu 3 Jam

Seperti pengalaman driver Gojek di kota Malang Usman Hadi, yang pernah mengalami pemutusan mitra hanya dalam kurun waktu 3 jam. Karena kesalahan yang tidak disengaja, beliau mendapat notifikasi pemutusan mitra. Namun akunnya aktif kembali setelah 3 jam dari notifikasi putus mita tersebut.

Asal mula ceritanya, Pak Hadi mendapat order GoFood dan hendak mengantar pesanan tersebut. Seperti biasa, beliau memasukkan handphone ke dalam tas kecil yang dibawanya saat dalam perjalanan mengantar. Baru setelah dekat dengan lokasi antar, beliau akan mempelajari alamat rumah pelanggan dengan melihat kembali map di aplikasi.

Baca :  Sistem Prioritas Dan Gagu Bikin Driver Gojek Part Time Kehilangan Penghasilan

Namun kali ini berbeda, di tengah jalan, beliau dikagetkan oleh nada dering di handphonenya. Nada dering tersebut sama seperti nada dering saat mendapatkan orderan. Dia berhenti dan melihat kembali aplikasi di handphonenya. Alangkah kagetnya saat beliau mendapat orderan baru, padahal beliau belum menyelesaikan orderan sebelumnya.

Hal ini dikarenakan pak Hadi membiarkan handphone tetap menyala dalam tas. Perkiraan karena gesekan dan goncangan dalam tas, hingga akhirnya order terselesaikan dengan sendirinya.

Beliau tidak memiliki kontak pemesan karena log panggilan yang melalui aplikasi tidak tersimpan otomatis. Selain itu beliau juga tidak tahu secara detail alamat rumah si pemesan. Hasilnya pak Hadi susah untuk mengantar makanan tersebut ke si pemesan, padahal sipemesan sudah membayar order tersebut menggunakan GoPay.

Beruntung beliau selalu screenshot order yang masuk. Dengan nomor order tersebut, pak Hadi melakukan panggilan ke Customer Service Gojek untuk meminta bantuan. Pak Hadi juga menjelaskan problemnya  dan meminta bantuan soal nomor pelanggan agar bisa menyelesaikan orderan.

Setelah mendapat nomor pelanggan, pak Hadi segera menelepon si pemesan dan menjelaskan secara rinci problemnya. Setelah sampai di rumah pemesan, beliau meminta maaf atas kesalahannya. Namun karena lamanya proses antar dan tidak ada kabar dari driver, si pemesan sudah terlanjur telepon Customer Service Gojek akan tindakan kecurangan dan penipuan yang dilakukan driver.

Pak Hadi memakluminya dan meminta maaf atas kesalahannya pada pelanggan tersebut. Beliau juga pasrah dengan pengaduan pelanggannya. Alhasil, selang beberapa kilo meter seusai mengantar, beliau mendapat notifikasi putus mitra di aplikasi.

Namun karena tindakannya melapor customer service dengan masalah ordernya dan ada iktikad baik untuk menyelesaikan orderan. Akhirnya selang 3 jam, akun pak Hadi aktif kembali tanpa harus banding ke kantor Gojek.

Baca :  Rekomendasi 5 Menu Go-Food Favorit di Palembang

Berbeda cerita dengan yang dialami Pak Dedi. Dengan kasus yang hampir sama dengan pak hadi, akun pak Dedi tidak bisa selamat dari sanksi pemutusan mitra.

Sama-sama memiliki iktikad baik dalam mengantar kembali pesanan. Namun cara yang ditempuh pak Dedi adalah dengan menanyakan alamat rumah secara manual. Beliau tidak melakukan bantuan melalui customer service untuk masalahnya seperti yang dilakukan pak Hadi.

Meskipun sudah mengantar pesanan makanannya, pelanggan sudah terlanjur melaporkan ke pihak Gojek atas ketidak puasannya. Akhirnya akun pak Dedi mendapatkan notifikasi pemutusan mitra.

Berbeda dengan pak Hadi yang langsung aktif kembali setelah beberapa jam, pak dedi harus melalui banding ke kantor DSU Gojek di wilayahnya. Namun sangat disayangkan, ada beberapa riwayat order pak Dedi yang memberatkan kasus yang dihadapinya. Pada akhirnya Pak Dedi harus menerima kenyataan bahwa akunnya tidak bisa selamat dari pemutusan mitra secara permanent.

Dari pengalaman ini, bisa disimpulkan bahwa terkadang pemutusan mitra bisa terjadi karena kesalahan kecil dari mitra. Kepuasan pelanggan atas pelayanan mitra adalah hal yang sangat penting. Karena hal tersebut bisa jadi pembanding jika terjadi hal-hal yang tak terduga seperti adanya auto suspen maupun suspen manual yang tidak disengaja oleh mitra.

Selain itu, selalu screenshot order adalah langkah yang sangat tepat untuk hal-hal tidak terduga saat menjalankan order.

Keep Fight dan Salam Satu Aspal

Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *