Skip to main content
Perbedaan Mendasar Antara Aplikasi “Tuyul” Dengan Fake GPS

Perbedaan Mendasar Antara Aplikasi “Tuyul” Dengan Fake GPS

Dalam dunia ojek online, aplikasi ‘Tuyul’ dan fake GPS adalah sebuah kecurangan yang dilakukan sebagian mitra ojek online untuk meraup rupiah dengan cara ilegal. Namun taukah Anda bahwa keduanya sebenarnya  memiliki perbedaan yang mendasar.

Dilansir dari Kompas.com, perangkat lunak pembuat order fiktif pada taksi dan ojek online atau kerap disebut aplikasi “tuyul” itu berbeda modus dan cara kerja dengan kasus fake GPS yang digunakan para mitra taksi online untuk memalsukan lokasi penjemputan penumpang.

Kedua aplikasi tersebut sebenarnya menggunakan aplikasi yang sama, yakni aplikasi yang bisa memalsukan lokasi semacam Mock location, Waze dan aplikasi sejenisnya. Bedanya hanya terpaut pada prilaku drivernya.

Jika pengguna aplikasi fake GPS hanya untuk memalsukan lokasinya agar lebih mudah mendapatkan orderan. Biasanya mereka memalsukan lokasinya untuk lebih dekat dengan resto yang ramai orderan.

Selepas driver mendapat orderan, driver tetap menjalankan sesuai standart operasional prosedur (SOP) dengan menjemput pelanggan real atau membelikan makanan kalau mendapat order Food.

Sedangkan untuk aplikasi tuyul, drivernya benar-benar tidak bergerak sama sekali dan diam di suatu tempat. Mereka menggunakan teknologi fake GPS seolah-olah driver sedang mengemudi dan benar-benar melayani penumpang.

Begitupun orderan yang mereka dapat, sebenarnya adalah orderan fiktif yang sengaja mereka buat sendiri. Dengan bermodalkan handphone yang sudah di root (oprek) beserta aplikasi tambahannya, mereka bisa menciptakan ratusan bahkan ribuan customer fiktif untuk dirinya sendiri.

Atau dengan beranggotakan beberapa driver, mereka saling memberikan orderan fiktif ke anggota lainnya. Tujuannya adalah insentif yang mereka dapatkan dari perusahaan penyedia jasa ojek online.

Dampak Dari Penggunaan Fake GPS Bagi Ojek Online

Hapus aplikasi fake gps

Dari pengamatan Gojekblog, sebenarnya penggunaan aplikasi Fake GPS bagi driver ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia. Pihak Kantor penyedia ojek online pun juga tidak tutup mata dalam mengatasi hal ini, namun pihak penyedia jasa juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Baca :  Tips Agar Sering Mendapat Orderan di Gojek 2019

Pihak penyedia jasa ojek online secara terang-terangan melarang keras penggunaan aplikasi Fake GPS dan meningkatkan sistem anti tuyul pada aplikasi driver, namun tetap saja pengguna aplikasi ini tetap merajalela.

Meskipun seiring waktu ada sebagian driver yang terindikasi penggunaan aplikasi tambahan yang merasakan putus mitra, Dan ada juga yang merasakan dirugikan karena akunnya kena hack dikarenakan aplikasi tambahan tersebut. Namun semua itu tidak memberikan efek jera bagi driver lainnya yang masih menggunakan aplikasi tersebut.

Memang kemudahan teknologi terkadang melena kan penggunanya, begitupun dengan penggunaan aplikasi tuyul ini. Namun yang harus Anda pahami bahwa penggunaan aplikasi seperti ini adalah tindak kejahatan, apalagi dalam kasus order fiktif untuk meraup insentif pribadi.

Seperti yang dilansir di beritasatu.com, pada tanggal 13 februari 2019 yang lalu, Tim Polda Metro Jaya dan Direktorat Cyber Crime mengungkap 4 sindikat order fiktif di Jakarta yang raup jutaan rupiah perharinya. Satu pelaku memiliki 20-30 akun driver yang bisa menghasilkan 7 sampai 10 juta perhari.

Melihat nominal tersebut memang sangat mengiurkan, namun ada balasan yang setimpal dari tindak kejahatan dan penipuan. Alih-alih ingin memperkaya diri, justru mendekam dibalik jeruji.

Jadi, masih mau menggunakan fake GPS untuk nuyul? Pertimbangkan kembali yah kawan.

Salam Satu Aspal

#AntiFakeGPS #AntiTuyul #Wani

Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *